City Manager Grab Surabaya Dede Sadeli mengatakan, sebanyak 20 persen pekerjanya adalah perempuan.

”Kami bekerja sama dengan Komnas Perempuan untuk mewujudkan keamanan dan kenyamanan kerja. Baik bagi pekerja kami maupun konsumen,” katanya, Kamis (18/7).

Selain memberikan edukasi, Grab menyosialisasikan pentingnya keamanan dan kenyamanan layanan transportasi daring mereka.

Di Surabaya, menurut Dede, sebagian pekerja perempuan memilih untuk mematikan opsi ride.

Dengan demikian, mereka hanya melayani pembelian makanan daring. Demi keamanan dan kenyamanan, para pekerja perempuan memang diperkenankan untuk mengambil kebijakan tersebut.

Meskipun demikian, sebenarnya kebutuhan konsumen terhadap penyedia layanan antar atau jemput perempuan juga tinggi.  Sebab, sekitar 60 persen pelanggan Grab adalah kaum hawa.

Dede mengakui, pihaknya masih terus berupaya mengembangkan fitur-fitur layanan yang membuat keamanan dan kenyamanan konsumen serta pekerja terjamin.

Sejauh ini, Grab memiliki lima fitur keamanan. Yakni, penyamaran nomor telepon, free call, verifikasi wajah pengemudi dan pelanggan, tombol darurat, dan share lokasi perjalanan real time.

”Sebenarnya itu kami terapkan sejak 2017,” katanya.

Beberapa layanan tersebut diterapkan sejak 2017. Grab mencatat, 80 persen keluhan keamanan dari konsumen menurun berkat fitur-fitur itu.

”Kami akan terus memperbarui layanan keamanan sesuai kebutuhan pasar,” imbuh Dede.

Hingga November 2018, Grab menguasai 60 persen pasar layanan transportasi roda dua daring di Indonesia.

Sementara itu, untuk kendaraan roda empat, pangsa pasarnya mencapai 70 persen melalui bisnis layanan.[jpnn]
 
 
 
 
 
 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama